Sungguh aku ingin berkata tentang melihat, namun ternyata tidaklah semudah itu. Melihat tanpa berkata di dalam hati seperti layaknya orang melamun dengan pandangan kosong. Maka, melihat haruslah disertai dengan perkataan di dalam hati. Jika tidak, maka melihat menjadi suatu kerja tidak berarti.

Berbicara tentang melihat, ternyata tidak dapat berdiri sendiri. Melihat, memandang, mengawasi (mengamati), memahami, mengetahui, mengenal, yakin, iman, adalah satu rantai proses-manfaat. Mendengar adalah satu belah yang lain. Antara melihat dan mendengar, terdapat suatu keselarasan. Derajat paling tinggi dari indera manusia adalah Melihat dan mendengar. Mencium dan merasa biasanya lebih untuk mendukung kedua indera tadi. Alangkah sengsaranya manusia jika ia buta dan tuli.

Marilah pertama kita bahas mengenai melihat.

Melihat :

Lihat, ada pada pelaku. Tampak, ada pada yang dilihat. Penglihatan dan penampakan adalah hasil. Maka proses melihat akan menghasilkan penampakan yang diukur dalam Besaran penampakan (dalam ilmu fisika, biasa disebut Dimensi). Besaran ini antara lain: jelas-kabur, terang-gelap, langsung-terhalang.

Memandang :

Perhatikanlah pada pelihat. Mengandung besaran seperti vektor (dalam ilmu fisika, biasa disebut besaran yang memiliki arah). Memandang adalah vektor lihat. Dari keseluruhan objek yang bisa tampak (dijelajahi), oleh karena keterbatasan memandang, tidak seluruh tampak terlihat. Sebagai contoh dinding gelap yang besar, disorot lampu senter pada bagian-bagian tertentu. Tidak keseluruhan, kecuali jika mengambil jarak lebih jauh, tetapi mungkin berakibat kabur.

Mengawasi / mengamati :

Memandang lebih tajam terhadap bagian-bagian. Menggerakkan pandangan sedikit demi sedikit untuk mencari hubungan. Apakah secara melompat ataukah secara berurut. Mengumpulkan pola keterkaitan dari antara penampakan. Kumpulan hasil pandangan atas penampakan lebih dari satu kita sebut sebagai pengamatan.

Memahami :

Merakit tampak-tampak hasil pengamatan dalam pola keterkaitan sehingga dapat difahami penampakan yang seharusnya dari hasil pandangan. Sebagai contoh, memandang hanya kuping dan kepala gajah, setidaknya dapat dibayangkan bagaimana besar badannya. Namun sebaliknya, memandang hanya ekor gajah, apakah kita dapat membayangkan besar badannya ? Kita memandang tampak-tampak secara parsial (bagian), untuk kemudian merakitnya dalam penglihatan yang lebih besar. Sehingga kita memahami dan mengetahui.

Mengetahui :

Lebih bertumpu pada memori. Yaitu besaran penglihatan dan penampakan yang tersimpan. Kita tidak akan mengetahui, kalau kita tidak pernah melihat atau memahami. Pengetahuan kita terbatas pada penampakan-penampakan yang kita pandang. Dalam mengumpulkan pengetahuan, semua proses melihat, memandang, mengamati, dan memahami akan dilalui.

Mengenal :

Adalah proses membanding antara pengetahuan dan penampakan. Hasilnya adalah mengenal atau tidak mengenal. Keraguan timbul karena adanya kekurangan pengetahuan atau pun adanya kekurangan penampakan. Posisi / urutan mengenal seharusnya setelah iman, tetapi di letakkan sebelum yakin adalah untuk mempermudah penjelasan yakin dan iman.

Yakin :

Besaran pengetahuan sehingga mudah mengenali. Terlepas dari penampakan. Tidak ada orang yang keyakinannya kuat kalau ia tidak punya cukup pengetahuan. Keyakinannya dapat dengan mudah dipatahkan oleh orang yang lebih mempunyai pengetahuan. Yakin adalah kemampuan mengenal berdasarkan pengetahuan.

Iman :

Besaran pengetahuan dan jelasnya penampakan. Iman adalah kumpulan dari yakin sedemikian rupa sehingga tidak ada halangan dalam penampakan (meskipun tidak terlihat). Orang beriman mestilah orang yang yakin banyak hal dan punya pengetahuan yang banyak pula sehingga Allah laksana terlihat kemanapun ia memandang. Iman adalah kemampuan mengenal berdasarkan pengetahuan dan penampakan.

Sebagian orang menganggap bahwa banyak dari Firman Allah adalah dalam ‘khiasan’. Sementara saya tergolong orang yang berdiri dan melihat bahwa Firman Allah adalah benar. Pengetahuan merekalah yang menyimpulkan bahwa Allah berkata dalam khiasan. Diperlukan banyak sekali sudut pandang, agar kita tidak dengan mudah menuduh itu sebagai khiasan.

Tulisan saya ini tidaklah sempurna. Mudah-mudahan ini dapat mengilhami cara kita berfikir. Penjelasan dengan skema atau grafis akan lebih baik. Bagi anda yang tertarik mengkaji lebih dalam, silahkan berpedoman pada Al-Quran.

Dari Al Quran Digital yang telah saya Download, dengan kata kunci ‘menampakkan’, diperoleh hasil antara lain sebagai berikut :

24. An Nuur

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

24. An Nuur

60. Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian[1050] mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.

6. Al An’aam

43. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

7. Al A’raaf

20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

7. Al A’raaf

143. Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

8. Al Anfaal

43. (yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

8. Al Anfaal

44. Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanyalah kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.

10. Yunus

81. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.

13. Ar Ra’d

10. Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

47. Muhammad

29. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ?

47. Muhammad

37. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.

50. Qaaf

44. (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka ke luar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.

53. An Najm

6. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s